Langsung ke konten utama

Jalanku Pulang, Sejenak Terhalang.

Sudah hampir 2 bulan, Covid-19 memasuki Indonesia dan mewabah di beberapa daerah.
Hal yang berdampak kepada seluruh kegiatan Manusia hampir di seluruh muka Bumi Mulai dari Perekonomian, Pendidikan, Politik dan Semua Aspek kehidupan.
Yang pasti, aku enggan untuk mengatakan lagi, karena aku, mungkin kamu dan kita semua lelah jika setiap harinya di jejali pemberitaan mengenai si bajingan Corona ini.

Statement liar mengenai wabah ini pun bermunculan seiring dengan munculnya Spekulasi dari pikiran yang mendengar kabar positif hanya tentang pasien corona yang terjangkit, meski demikian rakyat tetap punya cara sendiri untuk menyebarkan pemberitaan yang positif di ranah sosial media.

Dan Corona itu sendiri, Entah sebuah Konspirasi, Agenda Politik, Virus Buatan. Dan masih banyak lagi pandangan mengenai Covid19 ini. Aku pun terkadang meng Iyakan, salah satu diantaranya, apalagi sampai di jelaskan dengan sebuah Analogi yang terstruktur, meskipun hampir pasti yang mereka katakan mungkin hanya sebuah Cocoklogy dari pikiran lelahnya.
Karena aku lebih yakin, seperti apapun manusia merancang virus, semesta punya andil besar untuk menentukan apakah wabah buatan itu diizinkan untuk tersebar atau tidak, Manusia hanyalah satu makhluk diantara jutaan makhluk lain nya di alam semesta ini, terutama di sebuah planet bernama Bumi. Kita bukanlah satu satunya penghuni planet ini, dan rasanya memang ini cara semesta mungkin menyadarkan kita semua betapa pentingnya hal hal yang selama ini kita anggap sepele dan tidak penting.

Untuk hari ini, Di awal pekan dalam masa sulit. Tetap Saling menguatkan dan saling percaya diantara kita adalah hal terbaik yang bisa kita lakukan sama sama, sebar luaskan hal hal baik, kita semua butuh itu di masa masa saat ini, Dan pertanyaan umum,  diambang keputus asaan dari satu sama lain diantara kita, "Kapan ini Usai?"

Menurutku, Saat kita lebih Percaya, bahwa keyakinan yang kita miliki mampu mengalahkan wabah ini, dimana pikiran kita dapat menguatkan imun dalam diri kita agar seperti apapun kondisinya, kita mampu menghadapi. Dan juga, disaat satu sama lain Diantara kita mulai saling percaya, saling membantu dan melakukan aksi nyata untuk menghadapi ini semua bersama sama. Karena hanya kita sendiri yang mampu menolong diri kita, dalam kondisi apapun. Mengingat, seperti yang kita ketahui, Pemerintah mungkin sibuk dan lelah dengan urusan mereka sendiri. Setelah ini, memulihkan kondisi seperti semula dan sedia kala seperti hari kemarin bukanlah Perkara Mudah.

Yang pasti, aku rindu pada kalian untuk bersua, dan butuh sedikit waktu,   untuk nanti kita kembali bertemu.
Karena ada beberapa saudara kita di luar kota yang sangat tidak beruntung menjalani hari harinya jauh dari keluarga, karena kondisi ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yang Tertinggal, Di Hari Kemerdekaan.

 Tak nampak mbah muria dari tempatku biasa memandangnya di pagi ini. Kabut dan awan yang menyelimuti gugusan muria raya seakan bergerak lambat, bahkan mungkin lebih lambat dari roda perputaran segala aspek yang terjadi di kota ini, kota tempatku berdiri saat ini, dimana aku berada di sebuah tempat yang 75 tahun silam, para pendiri memberanikan diri mendeklarasi kedaulatan sebuah negri. Ya, Kemerdekaan Ibu Pertiwi. Pada pagi ini, yang masih dan akan selalu berputar hanya pertanyaan di isi kepala yang belum terjawab, mungkin sudah, tetapi aku tak mencoba mencarinya untuk aku coba temukan sebuah jawaban. Justru sirine masjid memberikan penguman, Satu insan kembali pada kesempurnaan. Ya, terkadang bagiku kematian justru menyelamatkan bagi orang,Mungkin juga itu yang di Pikirkan oleh para pejuang yang Gugur di medan perang dulu, "Merdeka Atau Mati." , "Hidup Mulia, Agau Mati Syahid." . Bagaimana tidak? Untuk saat ini yang katanya sudah 75 tahun merdeka, Setiap pagi, aku ...

JEPARA DARI KEJAUHAN MATA

  Oleh : Sun Semper Chi Alarm berdering pukul lima pagi. Badanku terasa berat. Kedua kelopak mata terasa  mengunci tak mau dibuka. Jemariku mulai merambat ke arah suara. Kuintip sebentar, masih terlalu pagi untukku yang tinggal di bilik kos tanpa orang tua. Bunyi alarm hilang diganti suara berisik tetangga. Jarak jendela kamar tidak sampai tiga meter dari bibir jalan. Mungkin lewat celah-celah ventilasi. Obrolan pagi hingga suara knalpot motor tua. Pagiku sering kali terganggu dengan suara masyarakat urban di tengah kota. Tak apalah, toh juga mereka tidak sampai menyiramiku karena bangun kesiangan. "Apa yang baru dengan hari ini? Sepertinya masih sama dengan pagi-pagi kemarin," pikirku seraya menata posisi untuk tidur kembali. ”Siapa tahu kali ini sepak bola Jepara mau berbenah,” seperti biasa, aku sering kali berkhayal. Musim baru, tetapi terasa hambar seperti musim-musim sebelumnya. Beberapa pemain silih  berganti. Beberapa masih bertahan. Pelatih baru mengganti pelatih...

TARIK NAPAS : "APPAREL,JANGAN ASAL TEMPEL"

Jersey Away Hitam yang membawa Persijap Juara mengalahkan PSKC Cimahi pada 29 Desember 2019 di Partai Final Liga 3 Indonesia 2019 Hallo, Apakabar, Semoga Sehat selalu. Pertama Tama saya ucapkan Selamat, Untuk Tim Laskar Kalinyamat,Persijap Jepara yang berhasil menjadi Jawara Liga 3 Musim 2019 dan Naik Kasta ke Liga 2. Setelah penantian panjang selama 17 Tahun setelah terakhir kali Persijap mempersembahkan sebuah Trophy untuk Kota Jepara . Semoga ini menjadi Awal yang baik untuk kita semua terutama warga Jepara.  Menjadikan semangat yang lebih Positive untuk menjalani hari hari yang cukup berat.  Dan hampir 2 pekan berlalu setelah Juara dan Usai Libur Natal dan Tahun Baru. Kini kita menatap kembali Liga 2 '2020 dan Musim ini dengan optimis. Tentu dengan segala Persiapan dan segala sesuatu yang lebih matang karena Liga 2 tentu lebih berat nantinya.  Tim sendiri sudah terlihat mempersiapkan langkah awal dengan mempertahankan Pelatih Sahala Saragih untuk me...