Alarm berdering pukul lima pagi. Badanku terasa berat. Kedua kelopak mata terasa mengunci tak mau dibuka. Jemariku mulai merambat ke arah suara. Kuintip sebentar, masih terlalu pagi untukku yang tinggal di bilik kos tanpa orang tua. Bunyi alarm hilang diganti suara berisik tetangga. Jarak jendela kamar tidak sampai tiga meter dari bibir jalan. Mungkin lewat celah-celah ventilasi. Obrolan pagi hingga suara knalpot motor tua. Pagiku sering kali terganggu dengan suara masyarakat urban di tengah kota. Tak apalah, toh juga mereka tidak sampai menyiramiku karena bangun kesiangan.
"Apa yang baru dengan hari ini? Sepertinya masih sama dengan pagi-pagi
kemarin,"
pikirku seraya menata posisi untuk tidur kembali.
”Siapa tahu kali ini sepak bola Jepara
mau berbenah,”
seperti biasa, aku sering kali berkhayal.
Musim baru, tetapi terasa hambar seperti musim-musim sebelumnya. Beberapa pemain silih berganti. Beberapa masih bertahan. Pelatih baru mengganti pelatih lama. Tidak ada yang diharapkan dari Persijap kecuali keberlangsungannya. Terus berkompetisi entah dengan kualitas pemain seperti apapun.
Seperti itulah cinta: tidak meminta apa-apa.
Walaupun aku sendiri tidak mampu membantu lebih, kecuali rapalan doa. Kecewa tentu saja pernah. Marah juga kadang kala. Namun, sebesar apa pun kemarahanku kepada Persijap, tetap saja tidak kuasa diriku untuk membencinya.
Sudah lama aku tak pernah menonton langsung Persijap bermain entah kandang maupun tandang. Padahal rumah sementara ini lebih dekat dari tempatku mengasingkan diri. Menjauh dari orang-orang yang aku kenal. Orang-orang yang bertahun-tahun mengenal diriku. Menanyakan kembali mengapa semua ini terjadi. Saban hari bergelut dengan buku, wacana, dan tentunya berita tentang Persijap Jepara. Beritanya tidak jauh-jauh dari lingkaran kompetisi. Entah informasi resmi dari manajemen ataupun desas-desus dari kawan-kawan dunia maya.
Entah mengapa datang langsung ke stadion tidak lagi menggairahkan seperti pertama kali
aku menemukan kembali Persijap di sekolah menengah setelah hilang bertahun-tahun. Ketika tidak lagi datang bersama bapakku. Kadang kala aku berpikir apa mungkin semangatku sudah luntur kemudian perlahan-lahan menghilang untuk mencintai klub ini dan yang jelas bukan tentang kekalahan dan kegagalan-kegagalan lainnya. Pernah sekali aku menyempatkan datang sendiri dengan alih-alih menemukan kegairahan seperti dulu. Namun, yang aku dapat malah semakin hambar. Semakin tawar. Apalagi ketika aku bernyanyi sendiri sedangkan kanan dan kiriku tidak bergeming sedikit pun. Rasanya seperti sia-sia saja aku datang ke sini. Tribun tak bergemuruh dan aku semakin memantapkan hati untuk tidak datang lagi ke sini. Sepertinya sudah tidak ada lagi yang menarik dari sini. Sepertinya aku sudah merasa di titik terjenuh datang langsung ke stadion. Aku tidak tahu lagi entah dengan cara apa pun agar aku bisa kembali lagi ke tribun.
Mungkin aku bosan dengan semua ini. Datang, menonton, kemudian pulang. Seperti tidak ada kegiatan lain yang sekiranya menarik untuk dikembangkan di kemudian hari. Entah apalah itu yang terpenting baik dan progresif. Sesuatu yang baru atau setidaknya belum pernah kita lakukan.
Kadang kala aku ingin membahas ini semua. Namun, aku merasa selalu sendiri. Seperti melewati jalan sepi dini hari. Sunyi sekali. Tidak ada seorang pun di sana. Cuma aku sendiri. Dan musim ini aku benar-benar sendiri menonton dari layar ponsel. Walaupun dari jauh, di kedalaman batinku terasa tersentuh. Ikut senang ketika menang dan merasakan duka ketika kalah.
Entah sampai kapan pun, seperti tulisan saya dulu, entah bagaimanapun Persijap akan selalu ada di hati dan pikiran saya. Walaupun pembaca mungkin meragukan iman sepak bola saya. Mau dengan dalih apa pun saya ini seorang Jepara dan memang asli orang Jepara. Dan seperti halnyaorang-orang Jepara pastilah mendukung Persijap Jepara. Mungkin sepenggal lagunya Queen ini sangat mewakili apa yang kurasakan saat ini,
Those days are all gone now,
But one thing's still true
When I look and I find
I still love you

Komentar
Posting Komentar