Langsung ke konten utama

Yang Tertinggal, Di Hari Kemerdekaan.

 Tak nampak mbah muria dari tempatku biasa memandangnya di pagi ini. Kabut dan awan yang menyelimuti gugusan muria raya seakan bergerak lambat, bahkan mungkin lebih lambat dari roda perputaran segala aspek yang terjadi di kota ini, kota tempatku berdiri saat ini, dimana aku berada di sebuah tempat yang 75 tahun silam, para pendiri memberanikan diri mendeklarasi kedaulatan sebuah negri. Ya, Kemerdekaan Ibu Pertiwi.

Pada pagi ini, yang masih dan akan selalu berputar hanya pertanyaan di isi kepala yang belum terjawab, mungkin sudah, tetapi aku tak mencoba mencarinya untuk aku coba temukan sebuah jawaban. Justru sirine masjid memberikan penguman, Satu insan kembali pada kesempurnaan. Ya, terkadang bagiku kematian justru menyelamatkan bagi orang,Mungkin juga itu yang di Pikirkan oleh para pejuang yang Gugur di medan perang dulu, "Merdeka Atau Mati." , "Hidup Mulia, Agau Mati Syahid." . Bagaimana tidak? Untuk saat ini yang katanya sudah 75 tahun merdeka, Setiap pagi, aku selalu membayangkan berapa banyak orang di negri ini yang terancam gila, atau bahkan mati bunuh diri karena kenyataan tak kunjung nyata dan bisa di terima bagi nalar sebagian orang.

Pagi ini, Waktu masih berjalan lambat juga. Aku tetap memandang satu sisi di sebelah timur, Dari atas Balkon tempat ku singgah, dimana di satu lantai dibawahnya, tempatku untuk tidur, untuk mandi, untuk bersandar, untuk menyendiri, untuk meneruskan segala keresahan, untuk selalu kembali lagi pada semua pertanyaan, seperti Pagi ini, Lagi.

Dan masih belum muncul juga, Barisan perbukitan Muria Raya dari arah ngetan omah.

"Apakah Mbah Muria masih berpihak pada manusia manusia Berdikari di tempatku berdiri saat ini? Kabutnya menandakan ia enggan untuk menampilkan pesona yang menjadi wajah kota ini, dan kota kota disekitarnya. Seperti pagi di Batavia dengan Gede-Pangrango dari arah Barat Daya. Atau deretan perbukitan di Ibukota Parahyangan yang membuat mereka mendapat julukan Paris Van Java. Yang cukup sakral, Mbah Merapi yang selalu Gagah di Sisi Utara Mataram." Sisa peninggalan masa lampau berupa lukisan yang menggambarkan kota kota dimasa VOC dulu, ya. Vereenigde Oostindische Compagnie // Dutch East-India Company Atau dalam bahasa Kita saat ini Kongsi Dagang dari Negri Belanda di sebelah Timur India.

Sebentar? Timur India? Entah lahh. 

Desir angin yang membelah di sela sela dedaunan pisang diantara pepaya yang menggantung, menerbangkan kapuk dari buahnya seakan menyampaikan pesan di sebuah semak, dibalik ramainya jalan Krasak. 

Dan sepertinya, Jalanan krasak yang ramai dan mulai ada pelebaran adalah lajur yang harus aku lalui, lagi. Setiap hari. Dan jangan lagi mencoba untuk menengok kebelakang, jika memang aku belum mau pulang.

Berpulang? 

Ahh, sial! Tempat ini hanya kusambangi saat perjumpaan dengan manusia lain usai, dan itu sudah pasti malam yang hampir pagi,Bahkan ya se Pagi ini. Mana sempat? Aku memikirkan apalagi sampai mempersiapkan,apa yang akan aku bawa lagi saat aku pulang. 

Sedang, tempat ini, tempat ku beristirahat, hanya akan aku sambangi saat aku sendiri, saat semua terasa gelap. Dan saat aku mendengar lagi sirine kematian yang aku pun heran, kok setiap pagi ada saja orang mati.

Di sebelah utara tepatnya, ada sebuah jalan yang tak terlalu lebar, hanya muat satu kontainer mengangkut hasil produksi tangan tangan terampil manusia manusia luar biasa yang setiap harinya memadati jalan itu juga dari arah Jalan Krasak, memasuki sebuah gang menuju peraduan nasib, untuk bertahan hidup dan menerima stereotypes dari warga lain, yaitu Buruh Pabrik. Ya, perusahaan perusahaan besar yang setidaknya bisa menjadi tempat bernaung masyarakat sekitar.  Bukankah memang demikian? Sejak berabad abad lalu? Dan, apakah ini semua hanya sebuah peralihan dari kongsi dagang yang dulunya bernama "Vereenigde Oostindische Compagnie" ?

Lalu,kita merayakan apa selama 75 tahun ini? 

Dan disaat bersamaan, sepertinya waktuku untuk tidur tiba. Meski aku tak tau, apakah namaku akan disebutkan lagi oleh teman temanku setelah bangun nanti, atau diumumkan setelah sirine oleh marbot masjid. 

Dasar aku, jangankan untuk membangun negri. Bangun di jam 10 pagi untuk sekedar berdiri untuk mengikuti himbauan saja aku tak peduli.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JEPARA DARI KEJAUHAN MATA

  Oleh : Sun Semper Chi Alarm berdering pukul lima pagi. Badanku terasa berat. Kedua kelopak mata terasa  mengunci tak mau dibuka. Jemariku mulai merambat ke arah suara. Kuintip sebentar, masih terlalu pagi untukku yang tinggal di bilik kos tanpa orang tua. Bunyi alarm hilang diganti suara berisik tetangga. Jarak jendela kamar tidak sampai tiga meter dari bibir jalan. Mungkin lewat celah-celah ventilasi. Obrolan pagi hingga suara knalpot motor tua. Pagiku sering kali terganggu dengan suara masyarakat urban di tengah kota. Tak apalah, toh juga mereka tidak sampai menyiramiku karena bangun kesiangan. "Apa yang baru dengan hari ini? Sepertinya masih sama dengan pagi-pagi kemarin," pikirku seraya menata posisi untuk tidur kembali. ”Siapa tahu kali ini sepak bola Jepara mau berbenah,” seperti biasa, aku sering kali berkhayal. Musim baru, tetapi terasa hambar seperti musim-musim sebelumnya. Beberapa pemain silih  berganti. Beberapa masih bertahan. Pelatih baru mengganti pelatih...

TARIK NAPAS : "APPAREL,JANGAN ASAL TEMPEL"

Jersey Away Hitam yang membawa Persijap Juara mengalahkan PSKC Cimahi pada 29 Desember 2019 di Partai Final Liga 3 Indonesia 2019 Hallo, Apakabar, Semoga Sehat selalu. Pertama Tama saya ucapkan Selamat, Untuk Tim Laskar Kalinyamat,Persijap Jepara yang berhasil menjadi Jawara Liga 3 Musim 2019 dan Naik Kasta ke Liga 2. Setelah penantian panjang selama 17 Tahun setelah terakhir kali Persijap mempersembahkan sebuah Trophy untuk Kota Jepara . Semoga ini menjadi Awal yang baik untuk kita semua terutama warga Jepara.  Menjadikan semangat yang lebih Positive untuk menjalani hari hari yang cukup berat.  Dan hampir 2 pekan berlalu setelah Juara dan Usai Libur Natal dan Tahun Baru. Kini kita menatap kembali Liga 2 '2020 dan Musim ini dengan optimis. Tentu dengan segala Persiapan dan segala sesuatu yang lebih matang karena Liga 2 tentu lebih berat nantinya.  Tim sendiri sudah terlihat mempersiapkan langkah awal dengan mempertahankan Pelatih Sahala Saragih untuk me...