Oleh : Sun Semper Chi Alarm berdering pukul lima pagi. Badanku terasa berat. Kedua kelopak mata terasa mengunci tak mau dibuka. Jemariku mulai merambat ke arah suara. Kuintip sebentar, masih terlalu pagi untukku yang tinggal di bilik kos tanpa orang tua. Bunyi alarm hilang diganti suara berisik tetangga. Jarak jendela kamar tidak sampai tiga meter dari bibir jalan. Mungkin lewat celah-celah ventilasi. Obrolan pagi hingga suara knalpot motor tua. Pagiku sering kali terganggu dengan suara masyarakat urban di tengah kota. Tak apalah, toh juga mereka tidak sampai menyiramiku karena bangun kesiangan. "Apa yang baru dengan hari ini? Sepertinya masih sama dengan pagi-pagi kemarin," pikirku seraya menata posisi untuk tidur kembali. ”Siapa tahu kali ini sepak bola Jepara mau berbenah,” seperti biasa, aku sering kali berkhayal. Musim baru, tetapi terasa hambar seperti musim-musim sebelumnya. Beberapa pemain silih berganti. Beberapa masih bertahan. Pelatih baru mengganti pelatih...
Kesetaraan dalam tribun utara adalah hal yang mutlak, kita harus bangga dalam 1 dekade ini masih bertahan dan berdiri dalam suka maupun duka, dan kita harus tetap terus berjalan meskipun tidak tahu seberapa jauh jalan ini nanti. Tidak peduli dari latar belakang apapun itu, jika sudah berada di utara kita semua adalah sama. Keragaman juga harus dikaitkan dengan kesetaraan, karena keragaman tanpa kesetaraan akan memunculkan diskriminasi. Senada dengan ini tribun utara selalu kontra pada praktik-praktik yang menimbulkan diskriminasi. Maka dari itu tribun utara tidak pernah ada batasan-batasan untuk penghuninya. Kita sering menyebutnya Liberta per gli ultra . Dalam moment 1 dekade ini, kita perlu mengenang perjuangan tribun utara untuk tetap berdiri walau selalu ada badai yang kita dapati, namun kita juga harus tetap berjalan untuk 1 dekade yang akan kita tempuh. Karena masih banyak mimpi-mimpi yang akan kita gapai. Desember 2012 , oleh : Edi Saputra