| Sebuah Fiksi: |
Minggu sore di Pekan Terakhir di 2020,
Usai libur natal dimana waktu luang dihabiskan bersama keluarga. Mengakhiri pekan terakhir dengan merumput adalah pilihan bagi sebagian kawanku. Disaksikan oleh anak, istri, kawan sejawat serta sanak family. Menjadi penambah riuh dan semangat serta hiburan tersendiri, bagiku, bagi kami dan bagi semua yang ada di sebuah lapangan sore kemarin.
Laga yang mempertemukan tim tim dengan berbagai macam latar belakang dan keaadaan ekonomi, semua lebur dan berbaur dalam permainan. Terbagi menjadi 4 tim, 5 game, masing-masing 15 menit x 2 babak. Waktu yang Singkat dan sangat jauh dari standard, tapi cukup membuat Pak RT sebagai pemain tengah kewalahan ketika harus berhadapan dengan lawan yang lebih muda. Bola pun sering hilang di tengah saat membangun serangan. Pak Hansip dengan kepala plontos yang kemarin sore berposisi dibagian belakang atau full back pun tak jarang memaki Pak RT.
Hal itu menjadi hiburan tambahan para pemain yang lebih muda, gelak tawa sering terjadi hanya karena perdebatan kecil antara si RT dan si Hansip.
"Soleh ga ngerti banget di tengah susah."
Keluh Pak RT pada si Hansip pelontos, dia bergumam sambil menunduk pada pemain lain yang berposisi striker, dan ditanggapi dengan tawa kecil dan jawaban seadanya,
"Udah main aja, gapapa namanya lucu lucuan Pak."
Di sisi lain, teriakan dari "Tim Hore" yang berisikan squad ibu-ibu ghibah cukup membuat mental pemain di lapangan naik turun. Seperti ketika Umam mulai mengutak atik bola, plessing pada Mustafa, dan dikembalikan ke kotak 16 namun tidak terjadi goal. Jerit khas Ibu Ibu cukup menjadi terror, bagi Semua pemain. Pasalnya mereka meneriaki siapa dan tim mana pun tidak jelas arahnya. Tapi cukup berpengaruh bagi Pak RT yang memang disaksikan langsung istrinya,
"AHHHH... BAPAK MAH PAYAH!"
Moment itu dapat membuat semua yang ada di pinggir maupun di tengah lapangan menjadi penuh gelak tawa, disambar oleh gurauan tetangga lain, yang lebih asik mengomentari performa pemain dilapangan sambil merokok daripada turun langsung.
"yaahhh ga dapet jatah nanti malem nih dari bu RT." tandas pak sofii, yakin betul aku dia meneriakan itu. Perawakanya yang buntal dengan kaos kutang,lebih banyak menghabiskan batang rokok daripada berkeringat dilapangan. Memang agak kocak,tapi kami menikmati setiap gunjinganya pada semua pemain baik yang muda maupun yang tua.
"Aahhh.. Cakep mam.. Aahhh.. YAAAKK!!"
Gemuruh tercipta saat Umam membawa bola dan mencetak Gol tanpa ragu untuk mengecoh Andika, Penjaga gawang yang baru saja mempersunting gadis dari desa sebelah.
"ANDIKA PAYAH!!...HAHAHAHA" lanjut pak Sofii menyoraki Andika si penjaga gawang yang masih terduduk dibawah mistar usai kebobolan, Pak Sofii menghampiri dan menoyol kepalanya. Tawa pun keluar dari kedua raut wajah mereka.
Laga berlanjut, Game 1 berakhir. Hingga game selanjutnya sampai di penentuan, Tim Umam yang berhak atas laga bergengsi syarat akan Harga Diri di sore itu. Meski tanpa piala, apalagi hadiah berupa uang dan lain sebagainya. Apapun hasil pertandingan di sore itu, konsekuensi terbesar mereka menjadi pergunjingan warga selama sepekan ke depan.
Lapangan yang di kelola oleh warga dan petani desa, dimana disekitarnya pun memang tempat bercocok tanam seperti Jagung, Singkong, Pisang dan tanaman palawija lainnya. Merupakan sarana bagi masyarakat yang dikelola secara kolektif, sewa lapangan secara kolektif, membeli seragam secara kolektif, membeli minum secara kolektif dan semuanya mengandalkan kesadaran warga yang tinggi akan pentingnya kebersamaan serta hiburan bagi mereka.
Profesional? Ah, kesadaran bersama untuk menjaga dan merawat lapangan tempat mereka bermain agar masyarakat tetap sehat dan terhibur, atau sebatas tidak mencampuri urusan diluar lapangan ke dalam lapangan. Dan apa yang terjadi di lapangan tidak menjadi permasalahan yang panjang setelah 2 x 15 menit. Si Soleh pun yang terlihat bersi tegang dengan Pak RT tertawa atas permainanya,
"Gimana si Te, kalah sama anak saya yang baru 11 tahun."
Dan si RT pun membalasnya dengan menendang bola ke Arah soleh, dengan sengaja, dan tentu dengan tawa.
Di laga Amatir ini, professionalitas yang aku dapatkan ya kembalinya sebuah makna dari sepakbola itu sendiri, yaitu Sepakbola yang menyatukan. Meski kita semua tau pandemi ini membawa dampak bagi semua masyarakat di desa, tapi tertawa dan terhibur oleh hal hal sederhana adalah hak bagi masing masing diantara mereka.
Bulan yang bersinar dan menggantikan matahari, dan lapangan yang tidak disinari cahaya lampu perlahan mulai tak nampak lagi raut wajah bahagia diantara warga desa. Tapi semua cukup terasa untuk setidaknya malam ini kami beristirahat dengan nyenyak. Mengingat esok masih harus beraktivitas lagi di senin pagi. Dan masih tersisa beberapa hari jelang tahun berganti.
Komentar
Posting Komentar