Langsung ke konten utama

MEMOAR DI GRESIK; SATU LANGKAH MENUJU PUNCAK

Memoar di Gresik


Delapan besar akan dilakoni Persijap di Gresik Jawa Timur dengan sistem home tournament satu grup bersama Semeru FC, Perseta Tulungagung, dan tim asal Gresik sendiri PSG Sunan Giri. Target naik kasta tahun ini rasanya realistis jika mengaca pada laga-laga sebelumnya yang telah dijalani Laskar Kalinyamat, hingga per-delapan final Persijap hanya mengantongi satu kekalahan saja pada fase 32 besar, namun di fase kali ini dengan jadwal yang sangat padat Pian Sopian dan kawan-kawan dituntut lebih ekstra dengan kendala recovery pemain, sekaligus pelatih harus cerdik meramu komposisi tim dan dipastikan setiap laga adalah final. Perihal tersebut Sahala telah membuktikannya di laga pertama dengan mengandaskan perlawanan PSG Sunan Giri dengan skor meyakinkan 0-2 sekaligus menjadi modal penting guna menatap laga selanjutnya melawan Semeru FC.


***


Minggu itu adalah hari yang menjemukan bagiku, karena satu dan lain hal maka di laga pertama aku tidak dapat mengikuti teman-teman yang telah dahulu nglurug Gresik menemani Elang Laut Dada Putih berjuang. Hari itu ku lewati dengan penuh rutuk dan nggrutu dari pagi hingga siang sebelum akhirnya hanya bisa menyaksikan Persijap melalui kanal streaming yang tersedia dan yang ku ingat saat itu adalah piawainya Kinyun dan ujung tombak muda Faldi saling melesatkan bola ke gawang lawan menghantarkan kemenangan pertama di fase ini. Untung saja setidaknya sore itu masih ada syukur dan senyum yang cukup mengobati meskipun rasanya so-so saja. Dalam pikir yang berkecamuk mau tidak mau aku harus mengawal di laga kedua 


selanjutnya, maka pada malamnya segera ku hubungi kawan yang sudah dahulu di Gresik dan aku memutuskan untuk berangkat ke utara Ibu Kota Jawa Timur esok hari.

Dengan gegas di bangun pagi yang telat aku segera menuju terminal untuk mencari bus jurusan Semarang-Surabaya, sekitar tujuh jam lebih waktu tempuh yang dibutuhkan melalui Jalan Pantura, sebelum perjalanan yang ku pikirkan hanyalah bagaimana agar bisa sampai di Gresik tanpa macet, mogok maupun kendala yang lainnya, keberuntungan rasanya cukup berpihak kepadaku kali ini karena mendapat sopir yang ugal-ugalan dari berangkat di jam yang mepet. Selama perjalanan asa dan harapku melambung jika hari ini Persijap akan menang dan memastikan promosi; sambil menatap kaca jendela bus di siang yang hujan membayangkan perayaan kemenangan seperti apa nantinya bersama pemain dan kawan-kawan meskipun akhirnya suara cempreng dan genjreng kentrung dari pengamen membuyarkan itu semua, dengan penuh harap pula semoga di cuaca hujan kali ini berpihak kepada kami (setidaknya bukan seperti tahun sebelumnya).

Sekitar pukul 14.07 akhirnya telah sampai di Gresik, hampir saja bablas arah tol Surabaya, bergegas aku menghubungi kawan dan menuju penginapannya untuk sejenak rehat meluruskan punggung. Selanjutnya segera kami menuju Joko Samudro yang jaraknya kurang lebih 8 KM dari penginapan, sampainya di sana bertemu kawan-kawan yang kebanyakan juga sama menetap dari hari sebelumnya, meskipun hanya beberapa kawan namun yang ku rasakan saat itu adalah kebersamaan yang intim, sebab pada barisan dan pekik sorak tanpa perkusi di cuaca mendung dengan angin yang sembribit tidak menyurutkan semangat dan suara kami meneriakkan nama Persijap.

Laga sore itu care-taker Persijap menurunkan skuad utamanya barang tentu guna memenangkan pertandingan sekaligus memastikan promosi. Dengan menggunakan skema yang sama yakni build-up posession yang menjadi ciri khas Sahala membuat Semeru FC kesulitan di duel lini tengah, dengan pressing disiplin yang diterapkan pemain Persijap membuat lawan kesulitan mengembangkan permainannya, tapi ada satu pemain lawan yang cukup merepotkan dengan badannya bongsor tegap legam yaitu Ahmad Farid atau lebih akrab dengan sapaan Ambon, aku cukup paham betul dengan pemain ini ia memiliki ketahanan fisik yang bagus dan goal getter yang ulung, sebelumnya bermain di salah satu klub di Jawa Tengah namun gagal melaju ke fase nasional liga 3. Tapi dengan tampil lugas dan disiplinnya Yoga di lini belakang mampu membuat Ambon sendiri kesulitan menciptakan peluang, ada satu peluang yang ku ingat dari lawan ketika Ambon memberikan umpan sundulan kepada rekannya dan terjadi one-on-one dengan kiper, untung saja peluang tersebut gagal dimanfaatkan dengan maksimal dan bola segera ditangkap sigap oleh Harlan, ia juga tampil percaya diri sore itu. Persijap bukan tanpa peluang dengan memanfaatkan kecepatan pemain, serangan dibangun dari kedua sayap sampai ahirnya sekitar 15 menit sebelum turun minum serangan dari sisi kiri diumpan ke tengah ada Rizky Hidayat yang menyambutnya lalu ia lesatkan bola ke pojok kanan gawang lawan yang tidak mampu dihalau oleh kiper dan bek Semeru FC, lagi lagi mesin gol Persijap tampil apik dan Kinyun membuktikan sebagai pemain terbaik liga 3 musim itu.

Sontak saja kawan-kawan merayakan gol tersebut dengan keriangan hingga barisan sudah tidak seperti sebelumnya, tidak apa karena bagiku juga gol di laga tandang adalah satu dari sekian banyak kebahagiaan dari mengikuti sepak bola, Persijap tidak tampil gugup dan semakin percaya diri paska gol tersebut hingga peluit akhir babak pertama telah ditiup pengadil lapangan. Rehat sejenak di paruh waktu dengan menikmati angin yang agak kencang sore itu sambil menikmati kudapan lumpia khas Jawa Timuran yang sebenarnya rasanya agak hambar, tetiba saja dari belakang aku dan kawan-kawan dibuat kaget dengan kedatangan seorang yang tidak masuk melalui loket melainkan melewati belakang tribun yang belum sempurna pembangunannya, ternyata itu adalah Kevin Scheunemann ex pemain Persijap 2018. Dia bercerita jika datang dari rumahnya di Malang untuk menyaksikan Persijap dan ingin berjumpa dengan beberapa rekannya di musim sebelumnya yang masih bertahan di Persijap pada musim 2019.

Peluit babak kedua telah ditiup dan bola tengah segera diambil Persijap, punggawa Laskar Kalinyamat tetap berinisiatif tampil menyerang dan menguasai jalannya pertandingan, beberapa peluang tercipta sampai akhirnya di pertengahan babak kedua melalui tendangan bebas yang diambil oleh pemain gaek Zaenal Arifin mampu dihalau pemain lawan namun bola liar disambut dengan tendangan first-time kaki kiri dari luar kotak penalti oleh Gilang Garu yang mampu menghujam gawang Semeru FC, para pemain merayakannya dengan menghampiri ke arah tribun kami membuatku lari kegirangan ke arah teralis besi tribun yang akhirnya membuat kami merayakan euforia kedua kalinya setelah gol di babak pertama. Gol itu membuat kami semakin lebih lantang meneriakkan Persijap dan semangat dua sampai tiga kali lipat dari sebelumnya hingga sayup-sayup nyanyian ‘liga 2 liga 2’ ciri khas kawan-kawan sudah menggema kala itu. Setelahnya Persijap tidak tampil lengah dengan menerapkan compact defense membuat pemain lawan semakin kebingungan, serangan lawan yang sia-sia nan membosankan dengan menampilkan permainan yang nglokro maka dihadapan terdekat kami ada kiper lawan yang menjadi sasaran pelampiasan dengan teriakan-teriakan psywar jenaka dari kawan-kawan, entah bagaimana menjadi kiper Semeru kala itu, rasanya seperti jatuh tertimpa tangga pula.

Prittt prittt..

Asuu

Ndang sumprit sitt..

Wasit yang berambut tidak banyak itu akhirnya meniup peluit tanda berakhirnya pertandingan, maka bebarengan pula dengan syukur dan selebrasi semua elemen Persijap kala itu, pemain menghampiri kami bersama menyanyikan anthem dengan khidmat, aku melihat beberapa kawan meneteskan air matanya mungkin sebagai wujud haru bahagia dari semua jerih payah yang akhirnya tertuntaskan setelah dua tahun terakhir terseok berjuang di liga terbawah.

Hari yang semakin sore ditambah mendung gelap juga sorot lampu stadion Joko Samudro yang binar barangkali telah menyambut keberhasilan Elang Laut Dada Putih memastikan pijakannya di liga 2, rintik hujan juga akhirnya benar-benar turun membasahi langkah kami keluar stadion barangkali semesta ikut haru bahagia menjadi saksi. Momen itu sangat teringat betul dan aku begitu sentimentil saat itu.


Persijap, we are going up!


Satu langkah lagi, sampai jumpa di Bogor


Oleh: Muasis Alfaroq


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yang Tertinggal, Di Hari Kemerdekaan.

 Tak nampak mbah muria dari tempatku biasa memandangnya di pagi ini. Kabut dan awan yang menyelimuti gugusan muria raya seakan bergerak lambat, bahkan mungkin lebih lambat dari roda perputaran segala aspek yang terjadi di kota ini, kota tempatku berdiri saat ini, dimana aku berada di sebuah tempat yang 75 tahun silam, para pendiri memberanikan diri mendeklarasi kedaulatan sebuah negri. Ya, Kemerdekaan Ibu Pertiwi. Pada pagi ini, yang masih dan akan selalu berputar hanya pertanyaan di isi kepala yang belum terjawab, mungkin sudah, tetapi aku tak mencoba mencarinya untuk aku coba temukan sebuah jawaban. Justru sirine masjid memberikan penguman, Satu insan kembali pada kesempurnaan. Ya, terkadang bagiku kematian justru menyelamatkan bagi orang,Mungkin juga itu yang di Pikirkan oleh para pejuang yang Gugur di medan perang dulu, "Merdeka Atau Mati." , "Hidup Mulia, Agau Mati Syahid." . Bagaimana tidak? Untuk saat ini yang katanya sudah 75 tahun merdeka, Setiap pagi, aku ...

JEPARA DARI KEJAUHAN MATA

  Oleh : Sun Semper Chi Alarm berdering pukul lima pagi. Badanku terasa berat. Kedua kelopak mata terasa  mengunci tak mau dibuka. Jemariku mulai merambat ke arah suara. Kuintip sebentar, masih terlalu pagi untukku yang tinggal di bilik kos tanpa orang tua. Bunyi alarm hilang diganti suara berisik tetangga. Jarak jendela kamar tidak sampai tiga meter dari bibir jalan. Mungkin lewat celah-celah ventilasi. Obrolan pagi hingga suara knalpot motor tua. Pagiku sering kali terganggu dengan suara masyarakat urban di tengah kota. Tak apalah, toh juga mereka tidak sampai menyiramiku karena bangun kesiangan. "Apa yang baru dengan hari ini? Sepertinya masih sama dengan pagi-pagi kemarin," pikirku seraya menata posisi untuk tidur kembali. ”Siapa tahu kali ini sepak bola Jepara mau berbenah,” seperti biasa, aku sering kali berkhayal. Musim baru, tetapi terasa hambar seperti musim-musim sebelumnya. Beberapa pemain silih  berganti. Beberapa masih bertahan. Pelatih baru mengganti pelatih...

TARIK NAPAS : "APPAREL,JANGAN ASAL TEMPEL"

Jersey Away Hitam yang membawa Persijap Juara mengalahkan PSKC Cimahi pada 29 Desember 2019 di Partai Final Liga 3 Indonesia 2019 Hallo, Apakabar, Semoga Sehat selalu. Pertama Tama saya ucapkan Selamat, Untuk Tim Laskar Kalinyamat,Persijap Jepara yang berhasil menjadi Jawara Liga 3 Musim 2019 dan Naik Kasta ke Liga 2. Setelah penantian panjang selama 17 Tahun setelah terakhir kali Persijap mempersembahkan sebuah Trophy untuk Kota Jepara . Semoga ini menjadi Awal yang baik untuk kita semua terutama warga Jepara.  Menjadikan semangat yang lebih Positive untuk menjalani hari hari yang cukup berat.  Dan hampir 2 pekan berlalu setelah Juara dan Usai Libur Natal dan Tahun Baru. Kini kita menatap kembali Liga 2 '2020 dan Musim ini dengan optimis. Tentu dengan segala Persiapan dan segala sesuatu yang lebih matang karena Liga 2 tentu lebih berat nantinya.  Tim sendiri sudah terlihat mempersiapkan langkah awal dengan mempertahankan Pelatih Sahala Saragih untuk me...