"Corona bisa menghentikan segalanya, tapi tidak dengan Pilkada."
Kalimat demikian bermunculan di berbagai platform jejaring sosial media saat keterangan resmi dari Polri yang menyatakan bahwa izin keamanan dan keramaian belum turun untuk lanjutan Liga Indonesia. Sampai pada sore ini (Selasa 29 September 2020) , saya pun berpikir bahwa, "Saya kira semua urusan sudah selesai dan kita siap untuk melanjutkan Liga lagi." sepertinya memang Kue yang tersaji tidak terbagi rata. Hehe
Penundaan 'lagi' menurut saya memang bisa saja terjadi sejak keputusan digulirkan kembali liga di tengah pandemi, karena pro dan kontra dari awal memang sudah ada dengan alasan 'Apakah tidak terlalu di paksakan?' . Meski demikian, tim tim pun ada yang melakukan segala persiapan lagi untuk melanjutkan liga, dan tidak sedikit juga yang harus memutar otak untuk mengikuti kompetisi. Dilanjutkan atau tidak, yang pasti klub peserta lah yang menjadi korban disini, terutama tim yang sudah mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang. Apabila tidak berlanjut pun, mungkin klub yang minim persiapan bisa sedikit bernapas lega.
Apapun itu, sesuatu yang terlalu di paksakan memang tidak baik. Kembali lagi, tarik ulur antara federasi dan politisi sampai kapan terus terjadi mengingat ketertinggalan sepakbola kita di kancah international bisa jadi, bahkan memang terjadi karena persiapan dan keputusan yang tidak benar benar matang dari pihak pihak terkait penyelenggara event sepakbola.
Komentar
Posting Komentar